Bukan Hanya Bencana Alam, Sampah Plastik Juga Mengancam Kelangsungan Hidup Manusia

Sejak beberapa tahun belakangan, plastik sudah mulai banyak digunakan di berbagai kehidupan manusia – mulai dari untuk menyimpan dan mengemas makanan hingga menyimpan barang supaya tidak rusak. Plastik untuk penyimpanan ini tergolong plastik yang aman dan sudah lolos beberapa tahap penelitian untuk penggunaan standar yang sesuai dengan kode identifikasi resin.

Meskipun demikian, di tahun 2012, diketahui manusia memproduksi 280 juta ton plastik di dunia, dan lebih dari setengah sampah ini yang akhirnya berakhir mengambang di lautan. Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati di Montreal, Kanada, melaporkan bahwa plastik-plastik tidak terpakai di lautan ini dapat mengancam kelangsungan hidup semua spesies penyu dan kura-kura laut, 45% spesies mamalia laut, dan 21% spesies burung laut.

Penyebaran Plastik di Lingkungan

Saat produksi plastik dimulai di tahun 1940-an, penggunaan plastik dengan cepat muncul di semua bidang kehidupan. Faktanya, lima puluh persen produksi plastik tahunan mengarah kepada kemasan sekali pakai. Inilah alasannya mengapa banyak sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan sampah, aliran air, hingga laut lepas.

Peneliti di Amerika Serikat memperhitungkan bahwa total plastik yang pernah dibuat dan digunakan berada di angka 8,3 miliar ton. Angka ini dicapai hanya dalam waktu 65 tahun.

Sekitar 10 juta ton plastik memasuki laut lepas setiap tahunnya. Di tahun 2010, peneliti dari Pusat Analisis dan Sintesis Ekologi Nasional dan Universitas Georgia di Atena mengestimasikan terdapat 8 juta ton sampah plastik dan angkanya meningkat menjadi 9,1 juta ton sampah plastik di tahun 2015.

Penelitian yang sama juga menemukan bahwa negara Asia merupakan 13 dari 20 penghasil sampah terbanyak di dunia. Cina berada di daftar atas sebagai negara penghasil sampah plastik. Sementara, Amerika juga masuk ke dalam jajaran 20 besar dan memiliki angka penghasil sampah plastik per orang yang cukup tinggi.

Ancaman Sampah Plastik Terhadap Kehidupan

Seperti yang sudah kita ketahui, sampah plastik merupakan sampah yang sangat sulit terdegradasi. Diperkirakan akan dibutuhkan waktu 50 tahun untuk gelas stryrofoam agar dapat terdegradasi, 200 tahun untuk kaleng aluminium, 450 untuk popok dan botol plastik, dan 600 tahun untuk senar pancing.

“Kita dengan cepat membuat bumi berubah menjadi ‘Planet Plastik’ dan jika kita tidak ingin tinggal di dalamnya, kita harus mulai memikirkan bagaimana cara menggunakan plastik ini,” tutur Dr Roland Geyer, Asisten Profesor Ilmu Pengetahuan Lingkungan.

Burung laut dan hewan laut lain, seperti kura-kura, lumba-lumba dan anjing lain, berisiko terikat dalam kantung plastik dan sampah plastik lainnya, atau dapat juga memakan sampah plastik tersebut karena mengira itu adalah makanan.

Kura-kura tidak dapat membedakan antara kantung plastik dan ubur-ubur yang notabene merupakan makanan kesukaan mereka. Setelah dikonsumsi, kantung plastik dapat menciptakan penghambatan dalam sistem di tubuhnya dan akhirnya mengakibatkan kematian.

Seiring berjalannya waktu, sampah plastik akan terdegradasi dan pecah menjadi fragmen berukuran mikro yang juga menciptakan kekhawatiran bagi pada peneliti.

Peneliti di Universitas Plymouth berhasil menemukan plastik dalam satu per tiga ikan yang ditangkap dari perairan Inggris, meliputi ikan kod, haddock, makarel, dan kerang.

Kondisi ini sangat berbahaya karena kontaminasi plastik juga mungkin memengaruhi saluran pencernaan manusia juga. Bahkan di tahun 2016, Badan Keamanan Makanan Eropa memeringati adanya peningkatan risiko gangguan kesehatan manusia karena “tingginya polusi plastik-mikro dalam ikan yang umum dikonsumsi”.

Bahkan, penelitian yang dilakukan tahun 2018 silam tersebut, memperkirakan bahwa lebih dari 50% populasi manusia di dunia memiliki mikroplastik dalam tinjanya.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*