Yang Perlu Diketahui Sebelum Memutuskan Mendapatkan Facelift

Semakin kita bertambah tua, kulit dan jaringan akan kehilangan keelastisitasannya secara alami. Hal ini dapat menyebabkan kulit keriput dan menurun. Facelift, atau dikenal dengan sebutan rhytidectomy, merupakan sebuah prosedur bedah kosmetik yang bertujuan untuk memberikan tampilan yang lebih muda pada wajah. Prosedur ini akan membentuk ulang bagian setengah bawah wajah dengan mengangkat kulit muka berlebih. Facelift juga melibatkan penghalusan lipatan keriput dan mengencangkan jaringan wajah. Meskipun dapat dilakukan di waktu yang bersamaan, prosedur facelift tidak melibatkan brow lift dan eye lift.

Banyak orang mendapatkan facelift karena berbagai alasan. Alasan yang umum dijumpai adalah untuk membantu menyamarkan tanda-tanda penuaan. Seorang kandidat yang baik yang bisa mendapatkan facelift harus memenuhi kriteria berikut ini, seperti:

  • Individu harus sehat dan tidak memiliki kondisi medis tertentu yang dapat mengganggu penyembuhan luka atau masa pemulihan setelah operasi
  • Tidak merokok dan menggunakan zat-zat berbahaya
  • Memiliki harapan yang realistis tentang hasil yang akan didapatkan dari operasi facelift

Operasi facelift umumnya dilakukan sebagai prosedur rawat jalan. Tindakan medis ini akan melibatkan anestesi dan sedative lokal ataupun anestesi umum. Prosedur ini dapat memakan waktu 2 hingga 5 jam, dan pasien dapat pulang ke rumah di hari yang sama mereka mendapatkan operasi facelift.

Komplikasi facelift

Facelift bertujuan untuk menciptakan tampilan yang lebih muda dan halus. Prosedur ini mengangkat dan mengencangkan kulit yang turun, mengurangi kulit yang “layu” di pipi dan sekitar rahang, mengangkat ujung mulut, dan mengurangi lipatan kerut di antara pipi dan bibir. Sayatan di depan dan belakang telingat biasanya tidak terlihat. Akan tetapi, facelift memiliki kekurangannya sendiri., yaitu tidak akan bertahan untuk selamanya. Penelitian menunjukkan bahwa 5 setengah tahun setelah operasi, 21 persen dari mereka yang mendapatkan facelift kambuh, dan hanya sekitar 76 persen masih tampak lebih muda.

Pada kasus pria, akan lebih sulit untuk mendapatkan hasil yang tampak alami setelah operasi facelift. Ini disebabkan karena mereka memiliki rambut di depan telinga atau cambang. Apabila cambang tersebut ditarik ke belakang atau ke depan, hal ini akan menyebabkan tampilan yang aneh. Selain itu, apabila terlalu banyak kulit diangkat, wajah akan memiliki ekspresi terkejut. Pada kasus pria dan wanita, facelift dapat menyebabkan daun telinga yang tampak terdistorsi.

Komplikasi akibat facelift jarang ditemui, dan prosedur bedah kosmetik umumnya aman untuk dilakukan, selama prosedur ini dilaksanakan oleh orang-orang yang berpengalaman, profesional, dan memiliki kualifikasi di bidangnya. Namun, semua tindakan bedah akan selalu memiliki risiko. Beberapa risiko dan komplikasi akibat operasi facelift di antaranya adalah pendarahan, lebam, komplikasi anestesi, kerusakan pada saraf wajah yang mengatur otot, hematoma, infeksi, hilangnya rambut di sekitar bekas sayatan, mati rasa (yang akan membaik setelah beberapa hari), bekas luka, kematian jaringan, wajah yang tidak simetris, dan luka yang semakin menebal atau membesar.

Apabila pasien facelift melihat adanya peradangan, rasa sakit, kemerahan, ataupun pembengkakan setelah beberapa hari pasca operasi, carilah bantuan medis untuk mendapatkan diagnosa dan perawatan langsung. Karena gejala-gejala tersebut dapat menjadi tanda-tanda hematoma terjadi. Selain itu, apabila ada gejala demam, maka pasien facelift sedang menderita infeksi. Karena itulah orang-orang yang menderita tekanan darah tinggi dan diabetes tidak disarankan mendapatkan facelift, karena hal ini dapat meningkatkan risiko komplikasi. Mereka yang merokok juga memiliki risiko lebih tinggi karena nikotin dapat mengganggu pemulihan luka.

Tags: 

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*